Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Teori Penawaran (Supply):


Hukum penawaran berasumsi bahwa dengan menganggap hal lainnya tetap, kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut terus meningkat. (Mankow, 2002).
Hubungan antara harga produk dengan kuantitas yang ditawarkan dapat dilihat dalam skedul penawaran (supply schedule). (Mankiw, 2002)
Kurva penawaran memperlihatkan perubahankuantitas barang yang
ditawarkan ketika harganya berubah. Karena harga yang lebih tinggi menaikan kuantitas yang ditawarkan, maka kurva penawaran memiliki kemiringan ke atas atau positif. (Mankiw, 2002).
Kurva Penawaran adalah kurva yang menggambarkan hubungan atara harga barang dengan kuantitas yang ditawarkan. (Mankiw, 2002).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran diantaranya adalah:
1. Harga barang tersebut.
Hubungan antara harga dan penawaran barang itu adalah berbanding lurus.
Semakin murah harga maka jumlah barang yang ditawarkan akan semakin sedikit dan semakin mahal harga, maka jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak.
2. Harga barang lain.
Semakin mahal harga barang substitusi maka semakin sedikit penawaran barang itu.
3. Harga faktor-faktor produksi.
Bila harga faktor-faktor produksi semakin meningkat maka akan menyebabkan biaya produksi menjadi mahal. Bila biaya produksi semakin mahal, maka produsen menjadi berkurang kemampuannya untuk berproduksi.
4. Ekspektasi harga di masa yang akan datang.
Bila ada anggapan bahwa di masa yang akan datang akan terjadi kenaikan harga pada suatu barang maka penawaran akan barang tersebut akan semakin menurun.
5. Jumlah produsen.
Apabila jumlah produsen bertambah maka semakin banyak penawaran.
6. Teknologi.
Dengan adanya teknologi yang semakin meningkat, berarti biaya untuk memproduksi menjadi lebih rendah, dengan demikian jumlah barang yang dapat diproduksi menjadi lebih banyak. (Samuelson, 2003)

Teori Permintaan (Demand)


Dalam ilmu ekonomi, istilah permintaan menunjukan jumlah barang dan jasa yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu.
Permintaan pasar merupakan penjumlahan dari permintaan individual. Oleh karena itu, agar dapat memahami permintaan pasar tersebut terlebih dahulu harus memahami sifat dari permintaan individual. (Arsyad, 2008).
Pada tingkat individual, permintaan ditentukan oleh dua faktor yaitu:
1. Nilai dari cara mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa.
2. Kemampuan untuk mendapatkan barang dan jasa.
Kedua faktor tersebut merupakan prasyarat bagi permintaan efektif individual.
Suatu hasrat saja tanpa didukung daya beli (purchasing power) hanyalah keinginan dan bukan permintaan. (Arsyad, 2008).
Skedul permintaan (demand schedule) yaitu sebuah tabel yang memperlihatkan hubungan antara harga barang dengan kuantitas yang diminta. (Mankiw, 2002

Kurva permintaan memperlihatkan bagaimana perubahan kuantitas barang yang diminta ketika harganya berubah. Karena harga yang lebih rendah meningkatkan kuantitas yang diminta, maka kurva permintaan memiliki kemiringan negatif. (Mankiw, 2002).
Kurva permintaan dapat diartikan sebagai berikut: sebuah grafik yang memuat hubungan antara harga sebuah barang dengan kuantitas yang diminta. (Mankiw, 2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan adalah sebagai berikut:
1. Harga Barang Tersebut.
Harga suatu barang mempengaruhi jumlah barang yang diminta (dibeli). Hubungan antara harga dan permintaan barang itu adalah berbanding terbalik. Semakin murah harga maka jumlah barang yang diminta akan semakin banyak.
2. Harga Barang Substitusi.
Barang substitusi adalah barang lain atau pengganti yang jenis atau tujuannya adalah sama. Jadi apabila terjadi kenaikan harga barang substitusi maka mengakibatkan kenaikan pada permintaan atas barang itu.
3. Pendapatan
Bila pendapatan seseorang meningkat, berarti orang itu memiliki kemampuan yang lebih besar untuk membeli barang, yang akhirnya menyebabkan permintaan akan barang menjadi meningkat.
4. Ekspektasi harga di masa yang akan datang.
Bila semua masyarakat beranggapan bahwa di masa yang akan datang akan terjadi kenaikan harga pada suatu barang, maka permintaan akan barang tersebut akan semakin meningkat.
5. Jumlah konsumen.
Apabila jumlah konsumen atau pembeli betanbah, maka semakin banyak permintaan akan barang tersebut.
6. Selera (trend).
Bila suatu barang menjadi mode atau trend di kalangnan masyarakat, maka permintaan atas barang tersebut meningkat dengan pesat. (Samuelson, 2003)

Kamis, 20 Oktober 2011

Definisi Investasi

Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.

Investasi mempunyai beberapa bentuk, seperti:

§ Investasi tanah – diharapkan dengan bertambahnya populasi dan penggunaan tanah, harga tanah akan meningkat di masa depan.

§ Investasi pendidikan – dengan bertambahnya pengetahuan dan keahlian, diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih besar.

§ Investasi saham – diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.

Jumat, 14 Oktober 2011

Valuta Asing

PERDAGANGAN VALUTA ASING

Perdagangan antarnegara melahirkan kebutuhan akan valuta asing yang sering disebut dengan istilah devisa. Mengapa demikian? Karena perusahaan eksportir yang mengekspor produk ke luar negeri memerlukan dana dalam mata uang lokal yang digunakan untuk modal kerja sehari-hari. Oleh karena itu, bagi eksportir apabila dibayar dengan mata uang negara lain (dalam hal ini, valuta asing) maka is harus menukarkan valuta asing itu dengan mata uang lokal. Transaksi jual-beli dua mata uang yang berbeda inilah yang kemudian melahirkan adanya perdagangan valuta asing atau sering disebut sebagai forex trading (forex = foreign exchange = valuta asing).

Berikut ini contoh tentang bagaimana transaksi perdagangan valuta asing dapat terjadi. Misalkan PT Arun Ngl salah satu perusahaan yang mengeksplorasi gas bumi cair terbesar di Indonesia, mengekspor LNG ke Jepang dengan syarat pembayaran yang ditentukan dengan menggunakan mata uang dari salah satu negara tersebut. Oleh karena itu, ada masalah yang terjadi balk di negara eksportir atau di negara importir. Hal itu terjadi karena di Indonesia PT Arun Ngl harus membayar biaya eksplorasi dan karyawan di Indonesia dalam mata uang rupiah (IDR), sedangkan di Jepang konsumen pengguna LNG membayar importir dalam mata uang Yen (JPY) —mata uang Yen merupakan alat pembayaran yang sah di Jepang. Dari kasus ini sekarang hanya ada dua kemungkinan untuk menyelesaikan transaksi ekspor-impor, yaitu apakah PT Arun Ngl menagih importir Jepang dalam mata uang JPY atau dalam IDR?

a. Jika PT Arun Ngl menagih dalam IDR, importir di Jepang harus menjual JPY yang dimiliki untuk membeli IDR di pasar valuta asing.
b. Jika PT Arun Ngl menagih dalam JPY, maka PT Arun Ngl harus menjual JPY hasil pembayaran ekspor LNG untuk mendapatkan IDR, untuk membayar biaya-biaya produksi di Indonesia.

Dari kasus itu terlihat bahwa dalam mata uang apa pun yang menjadi syarat pembayaran terhadap transaksi ekspor-impor, salah satu atau kedua belah pihak harus berhubungan dengan pasar valuta asing untuk menjual JPY guns mendapatkan IDR. Untuk memenuhi kebutuhan transaksi ini di pasar, harus ada pihak yang menawarkan JPY dan harus ada pihak yang meminta IDR. Kebutuhan akan JPY datang dari importir di Indonesia yang merigimpor barang dari Jepang. Demikian juga situasi yang sama dihadapi oleh importir di Jepang yang mengimpor barang dari Indonesia. Baik importir di Jepang maupun eksportir di Indonesia harus menjual JPY dan membeli IDR. Akibat dari perdagangan ini terjadilah transaksi pertukaran dua valuta di pasar valuta asing. Transaksi pasar valuta asing antara dua negara dapat saja terjadi atau ditransaksikan dengan menggunakan mata uang negara ketiga. Hal ini terjadi apabila syarat pembayaran yang disepakati menggunakan mata uang yang bukan milik masing-masing negara yang bertransaksi (biasanya karena mata uang negara-negara itu bukan mata uang yang keras atau hard currency). Misalnya dalam kasus ekspor LNG, PT Arun Ngl mensyaratkan pembayaran dalam USD. Dalam hal ini yang terjadi selanjutnya, importir di Jepang harus menjual JPY untuk membeli USD untuk membayar PT Arun Ngl. Selain itu, PT Arun Ngl harus menjual USD untuk memperoleh IDR guna membayar biaya-biaya produksi di Indonesia. Dad contoh transaksi ini dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional atau perdagangan antarnegara menimbulkan terjadi perdagangan valuta asing.

Pustaka
Manaj.Aktiva Pasiva Bank Devisa Oleh Boy Leon & Sony Ericson. (BMG)